Sunday, February 5, 2012

Pekembangan Islam di Kalimantan


Para ulama awal yang berdakwah di Sumatera dan Jawa melahirkan kader-kader dakwah yang terus menerus mengalir. Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo kala itu. Di pulau ini, ajaran Islam masuk dari dua pintu.
Jalur pertama yang membawa Islam masuk ke tanah Borneo adalah jalur Malaka yang dikenal sebagai Kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar. Para mubaligh-mubaligh dan komunitas Islam kebanyakan mendiami pesisir Barat Kalimantan.
Jalur lain yang digunakan menyebarkan dakwah Islam adalah para mubaligh yang dikirim dari Tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini menemui puncaknya saat Kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak mubaligh ke negeri ini. Perjalanan dakwah pula yang akhirnya melahirkan Kerajaan Islam Banjar dengan ulama-ulamanya yang besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad al Banjari.
Di Kalimantan Selatan terutama sejak abad ke-14 sampai awal abad ke-16 yakni sebelum terbentuknya Kerajaan Banjar yang berorientasikan Islam, telah terjadi proses pembentukan negara dalam dua fase. Fase pertama yang disebut Negara Suku (etnic state) yang diwakili oleh Negara Nan Sarunai milik orang Maanyan. Fase kedua adalah negara awal (early state) yang diwakili oleh Negara Dipa dan Negara Daha. Terbentuknya Negara Dipa dan Negara Daha menandai zaman klasik di Kalimantan Selatan. Negara Daha akhirnya lenyap seiring dengan terjadinya pergolakan istana, sementara lslam mulai masuk dan berkembang disamping kepercayaan lama. Zaman Baru ditandai dengan lenyapnya Kerajaan Negara Daha beralih ke periode negara kerajaan (kingdom state) dengan lahirnya kerajaan baru, yaitu Kerajaan Banjar pada tahun 1526 yang menjadikan Islam sebagai dasar dan agama resmi kerajaan.
Zaman keemasan Kerajaan Banjar terjadi pada abad ke-17 hingga abad ke-18. Pada masa itu terjadi puncak perkembangan Islam di Kalimantan Selatan sebagaimana ditandai oleh lahirnya Ulama-ulama Urang Banjar yang terkenal dan hasil karya tulisnya menjadi bahan bacaan dan rujukan di berbagai negara, antara lain Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
Berbeda dengan Muhammad Arsyad yang menjadi perintis pusat pendidikan Islam, Muhammad Nafis mencemplungkan dirinya dalam usaha penyebar-luasan Islam di wilayah pedalaman Kalimantan. Dia memerankan dirinya sebagai ulama sufi kelana yang khas, keluar-masuk hutan me-nyebarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Dan oleh karena itu beliau memainkan peranan penting dalam mengembangkan Islam di Kalimantan.
Islam masuk Kalimantan Selatan lebih belakangan ketimbang misalnya, Sumatera Utara dan Aceh. Seperti diungkapkan Azra, diperkirakan pada awal abad ke-16 sudah ada sejumlah muslim di sini, tetapi Islam baru mencapai momentumnya setelah pasukan Kesultanan Demak datang ke Banjarmasin untuk membantu Pangeran Samudra dalam perjuangannya melawan kalangan elite di Kerajaan Daha. Setelah kemenangannya, Pangeran Samudra beralih memeluk Islam pada sekitar tahun 936/1526, dan diangkat sebagai sultan pertama di Kesultanan Banjar. Dia diberi gelar Sultan Suriansyah atau Surian Allah oleh seorang da’i Arab. Dengan berdirinya Kesultanan Banjar, otomatis Islam dianggap sebagai agama resmi negara.
Namun demikian, kaum muslimin hanya merupakan kelompok minoritas di kalangan penduduk. Para pemeluk Islam, umumnya hanya terbatas pada orang-orang Melayu. Islam hanya mampu masuk secara sangat perlahan di kalangan suku Dayak. Bahkan di kalangan kaum Muslim Melayu, kepatuhan kepada ajaran Islam boleh dibilang minim dan tidak lebih dari sekadar pengucapan dua kalimah syahadat. Di bawah para sultan yang turun-temurun hingga masa Muhammad Arsyad dan Muhammad Nafis, tidak ada upaya yang serius dari kalangan istana untuk menyebarluaskan Islam secara intensif di kalangan penduduk Kalimantan. Karena itu, tidak berlebih jika Muhammad Nafis dan terlebih Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan tokoh penting dalam proses Islamisasi lebih lanjut di Kalimantan. Dua orang ini pula yang memperkenalkan gagasan-gagasan keagamaan baru di Kalimantan Selatan.
Pengembangan Islam di Kutai dilakukan oleh dua orang muslim dari makassar yang bernama Tuan di Bandang dan Tuan Tunggang Parangan, dengan cepat islam berkembang di Kutai, termasuk raja mahkota memeluk islam. Kemudian pengembangan islam dilanjutkan ke daerah-daerah pedalaman pada pemerintahan Aji di Langgar. Pada tahun 1550 M, di Sukadan (Kalimantan Barat) telah berdiri kerajaan islam. Ini berarti jauh sebelum tahun itu rakyat telah memeluk agama islam, Adapun yang meng-islamkan daerah Sukadana adalah orang Arab islam yang datang dari Sriwijaya. Di Sukadana Sultan yang masuk islam adalah Panembahan Giri Kusuma (1591) dan Sultan Hammad Saifuddin (1677).
Awal Masuknya Islam di Kalimantan Barat
Daerah pertama di Kalimantan Barat yang diperkirakan terdahulu mendapat sentuhan agama Islam adalah Pontianak, Matan dan Mempawah. Islam masuk ke daerah-derah ini diperkirakan antara tahun 1741, 1743 dan 1750. Menurut salah satu versi pembawa islam pertama bernama Syarief Husein, seorang Arab.[2] versi yang lebih lengkap menyatakan, nama beliau adalah Syarif Abdurrahman al-Kadri, putra dari Svarif Husein. Diceritakan bahwa Syarief Abdurrahman Al-Kadri adalah putra asli Kalimantan Barat. Ayahnya Sayyid Habib Husein al-Kadri, seorang keturunan Arab yang telah menjadi warga Matan. Ibunya bernama Nyai Tua, seorang putri Dayak yang telah menganut agama Islam, putri Kerajaan Matan. Syarif Abdurrahman al-Kadri lahir di Matan tanggal 15 Rabiul Awal 1151 H (1739 M). Jadi ia merupakan keturunan Arab dan Dayak dan Ayahnya Syarief Husein (Ada yang menyebutnya Habib Husein) menjadi Ulama terkenal di Kerajaan Matan hampir selama 20 tahun.[3]
Melihat keterangan di alas tampak bahwa islam masuk di Kalimantan Barat dibaw-a oleh juru dakwah dari Negeri Arab. Ini sejalan dengan teori beberapa sejarawan Belanda diantaranya Crawford (1820), Keyzar (1859), Neiman (1861), de Hollander (1861), dan Verth (1878). Menurut mereka penyiar Islam di Indonesia (Nusantara) berasal dari arab, tepatnya dari Hadramat, Yaman. Teori ini didukung pula oleh sejarawan dan ulama Indonesia modern, seperti Hamka, Ali Hasyim, Muhammad Said dan Syed Muhammad Naquib a( atlas (Malaysia).[4]
Memang ada teori lain yang menyatakan Islam di Nusantara berasal dari anak Benua India, yaitu dari Gujarat dan Malabar yang bermazhab Syafi’i. Teori ini dekemukakan oleh Pijnapel, seorang ahli sejarah melayu dari Universitas Leiden, Belanda, yang mengemukakan teorinya tahun 1872, yang menurut Azyumardi Azra diperkirakan diadopsi dari catatan perjalanan Sulaiman, Marcopolo dan Ibnu Baturiah. Teori lainnya, menyatakan Islam di Nusantara disebarkan oleh pedagang dan juru dakwah dari Benggala (Bangladesh) sekarang, yang titian dakwahnya melalui Cina (Kanton), Pharang (Vietnam), Lerang dan trengganu, Malasia. Teori ini dianut oleh Tome Pieres dan SQ Fatimi.[5]
Teori-teori diatas mungkin saja ada benarnya, mengingat banyaknya wilayah pantai Nusantara yang menjadi pusat perdagangan dan sekaligus penyiaran Islam. Tetapi melihat nama syarif Husein Al-Kadri dan putranya Syarif Abdurrahman al-Kadri yang pertama kali membawa dan menyiarkan Islam di Kalimantan Barat, maka tidak diragukan lagi untuk wilayah Kalimantan barat saat itu pembawanya adalah juru dakwah dari Arab.
Tidak dijelaskan secara pasti apakah Syarif Husein seorang pedagang atau Ulama karena diatas disebutkan aktifitasnya sebagai Ulama mencapai 20-an tahun. Tetapi diperkirakan, mulanya ia memang seorang pedagang, sebagaimana tipologi orang Arab pada umumnya, tetapi dimasa tuanya lebih memfokuskan sebagai Ulama atau juru dakwah. Sedangkan aktivitas dan bakat sebagai pedagang diwariskan kepada putranya, Syarif Abdurrahman al-kadri.
Terbukti sewaktu mudanya Syarif Husein al-Kadri aktif berdagang mengelilingi daerah-daerah di Sumatera seperti Tambilahan, Siantan, Siak, Riau dan Palembang, juga dikawasana Kalimantan, seperti Banjar Kalimantan Selatan dan Pasir di Kalimantan Timur. Bahkan ia juga berhubungan dagang dengan para pedagang Indonesia lainnya dan pedagang mancanegara, seperti dari Arab, India, Cina, Inggris, perancis dan belanda. Dari pengalaman dan kesuksesannya berdagang, ia membangun armada dagang yang kuat yang dilengkapi persenjataan serta kapal-kapal yang tangguh, yang dipimpin seorang sahabatnya bernama Juragan Daud.
Jadi masuknya Islam di Kalimantan Barat berjalan secara alami: Habib Husein al-Kadri sebagai juru dakwah pertama, dilanjutkan oleh putranya Syarif Abdurrahman al-kadri bersama para kader dakwah lainnya. Disebut alami disini karena selain tugas dakwah dijalankan, aktivitas ekonomis juga digerakkan sehingga para juru dakwah perintis ini memiliki kekuatan ekonomi yang kuat. Dengan kekuatan ekonomi ini pula dakwah menjadi semakin berhasil, ditambah relasi yang luas dengan para pedagang lainnya[6] Walaupun bagi Kalimantan barat, datangnya Islam yang dibawa oleh Syarif Husein al­Kadri, Kalimantan barta bukan merupakan daerah pertama yang didatanginva. Dan rentetan kronologi sampai akhirnya beliau menetap dan memusatk~ul dakwah di Kalimantan Barat.
Beliau sendiri lahir tahun 1118 H di Trim Hadramat Arabia. Tahun 1142 H setelah menamatkan pendidikan agama yang memadai, atas saran gurunya berangkat menuju negeri-negeri timur bersama tiga orang kawannya untuk mendakwah islam. Tahun 1145 H mulanya mereka tiba di Aceh. Sambil berdagang mereka mengajarkan Islam disana. Lalu perjalanan di lanjutkan ke Betawi (Jakarta) sedanglan temannya Sayyid Abubakar Alaydrus menetap di Aceh, Sayyid Umar Bachasan Assegaf berlayar ke Siak dan Sayyid Muhammad bin Ahmad al-Quraisy ke Trenggano. Syarif Husein al-kadri tingggal di betawi selama 7 bulan, kemudian di Semarang selama 2 tahun bersama Syekh Salam Hanbali. Tahun 1149 beliau berlayar dari Semarang ke Matan (ketapang) Kalimantan Barat dan diterima di Kerajaan Matan.
Seiring dengan usaha dakwahnya, penganut Islam semakin bertambah dan Islam memasyarakat sampai ke daerah pedalaman. Maka antara Tahun 1704-1755 M ia diangkat sebagai Mufti (hakim Agama Islam) dikerajaan Matan. Selepas togas sebagai Mufti, beliau sekeluarga diminta oleh raja Mempawah Opo Daeng Menambun untuk pindah ke Mempewah dan mengajar agama disana sampai kemudian diangkat menjadi Tuan Besar Kerajaan Mempewah, sampai wafatnya tahun 1184 dalam usia 84 tahun.[7]
Konsolidasi Politik
Islam di Kalimantan Barat tidak saja disebarkan dikalangan masyarakat grassproots (akar rumput) atau rakyat jelata, tetapi juga dikalangan bangsawan. Cara yang digunakan pada awalnya adalah dengan, mengawini putri-putri bangsawan. Syarif Husein mulanya kawin dengan Nyai tua seorang putri keluarga kerajaan Matan. Belakangan beliau juga kawin dengan Nyai tengah dan Nyai Bungsu juga dari lingkungan kerajaan Matan. Dari Nyai Tua lahir Syarif Abdurrlhnrm Al-Kadri yang belakangna menjadi pendiri Kesultanan Pontianak, Dari Nyai Tengah ia memiliki tiga anak, yaitu Syarifah Aisyah Syarif Abu Baikar dan Syarif  Muhammad. Sedangkan dari Nyai_ Bungsu memperoleh tiga anak pula, yaitu Syarif Ahmad, Svarifah Marjanaj, Syarifah Noor. Ketiga istrinya itu bersaudara, namun dikawini secara ganti tikar setelah isiri yang ada meninggal.[8]
Melihat sepak terjang Syarif Husein diatas, tampak beliau membangun kekuatan dakwah. selain politik dengan mendekati keluarga Kerajaan yaitu mengawini putri-putri bangsawan Kerajaan dayak yang sudah masuk Islam. Cara seperti ini memang banyak dilakukan para Ulama terdahulu, seperti para Ulama Walisongo dijawa dan Ulama besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Dikalangan Ulama Walisongo tercatat diantaranya Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel dari hasil perkawinannya dengan Dewi Candrawati putri Brawijaya Kertabumi, cucu raja Majapahit[9]. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari pernah kawin dengan Bajut (istri pertama) seorang putri Istana. Istri beliau yang lain, Ratu Aminah putri Pangeran Toha bin Sultan Tahmidillah, raja Banjar Islam yang ke-16 tampak disini, pintu perkawinan merupakan cara ampuh untuk mendekati lembaga kekuasaan. Terbukti kemudian Syarif Husein diangkat sebagai Mufti di Kerajaan Matan. Dan hal sama juga Syekh Muhammad Arsyad diangkat menjadi mufti dikerajaan Banjar. Pengangkatan tersebut tentu saja tidak semata karena adanya pertalian darah melalui perkawinan, tetapi didukung oleh keutamaan mereka juga.
Hal sama dilakukan oleh putra Syarif Husein, yaitu Syarif Abdurrahman al­Kadri. Ketika ayahnya diminta oleh Raja Mempawah Opo Daeng Menambun untuk pindah ke Mempawah dan diangkat untuk menjadi tuan Besar Mempawah, Abdurrahman dikawinkan dengan Utin Candra Midi, putri Raja Opu Daeng Menambun. Jadi ada keberlanjutan pertalian darah antara darah Ulama dengan darah raja. Pertalian inilah yang membuat posisi Syarif Husein dan Syarif Abdurrahman Al­Kadri beserta keturunannya semakin kuat.
Sebelum memperkuat karir politiknya, Syarif Abdurrahman Al-Kadri menjadi pedagang antar pulau. Sebagai mana disebutkan terdahulu ia memiliki armada dagang yang dilengkapi persenjataan di laut. Pernyataan ini seolah bertentagan dengan pernyataan terdahulu bahwa para pedagang Arab tidak tertair menggunakan senjata, dalam berdakwah. Sebenarnya tidak ada yang bertentangan dalam hal ini. Senjata yang digunakan oleh Syarif Abdurrahman al-Kadri adalah untuk mengawal armada dagangnya, sebab saat itu sudah terjadi persaingan antar kapal dagang, terutama kapal dagang asing dan juga untuk mengantisipasi serangan perompak laut (bajak laut). Kemungkinan besar angkatan bersenjata yang mengawal armada dagangnya tidak semata miliknya tetapi juga dibantu oleh Kerajaan Matan dan Kerajaan Mempawah yang sudah Islam ketika itu. Jadi Senjata bukan untuk dakwah, hanya mengawal dagang.
Mendirikan Kesultanan Pontianak
Setelah Syarif Abdurrahman Al-Kadri mengurangi aktifitas dagangnya. ia kemudian lebih memfokuskan untuk mendirikan suatu kerajaan atau kesultanan Islam. Mulanya tahun 1185 H (1771 M) ia meninggalkan Mempawah menuju Pontianak. Setelah 4 hari berlayar disungai Kapuas, rombongannya mendarat di Istana Kadriah yang sekarang dinamai Pontianak. Di sini ia membangun perumahan dan balai serta masjid. Di tahun yang sama ia balik ke Mempawah untuk membawa serta keluarga dan mengambil armada Tiang Sambung ke Pontianak.
Tahun 1777 dengan dibantu Raja Haji dari Riau, ia berlayar ke Tayan dan Sanggau untuk menaklukkannya dibawah kekuasaan Pontianak Selanjutnya tahun 1778 dengan dihadiri oleh para sultan dan penambahan dari Landang. simpang, Sukadana, Malay dan Mempawah, raja haji mengangkat dan menobatkan Syarif Abdurrahman al-Kadri menjadi Sultan dari kesultanan Pontianak. Setelah itu kesultanan Pontianak terus menguat dan menguasai Mempawah, Sambas, dll, baik dengan jalan perang maupun damai.[10] Setelah Sultan Syarif Abdurrahman AI-Kadri wafat tahun 1808 M, berturut-turut sejumlah sultan keturunannya berkuasa di Kesultanan Pontianak, yaitu:
  1. Sultan Syarif Kasim Al-Kadri (1808-1819)
  2. Sultan Syarif Usman AI-Kadri (1819-18SS)
  3. Sultan Syarif Hamid Al-Kadri (1855-1872)
  4. Sultan Syarif Yusuf Al-Kadri (1872-1895)
  5. Sultan Syarif Muhammad Al-Kadri (185-1944)
  6. Sultan Syarif  Thaha Al-Kadri (1944-1945)
  1. Sultan Syarif Hamid Al-Kadri (Sultan Hamid), (1945-1950)”
Adanya Kesultanan Pontianak yang dibangun oelh Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadri, putra Syarif Husein al-Kadri ini menarik untuk dikomentari. Sebelumnya disebutkan pedagang Arab atau Ulama asal Arab yang datang ke Indonesia tidak teriarik untuk membangun kekuatan Politik (political power) dengan cara mendirikan kerajaan sendiri yang dikuasai oleh keturunan Arab. Mereka lebih senang menjadi Ulama yang bersekutu dengan pihak kerajaan. Itu sebabnva tidak banyak diketahui orang Arab atau keturunan Arab yang menjadi pengusaha di Nusantara. Dari sedikit itu tercatat misalnya Fatahillah (Syarif Hidayatullah) yang berkuasa di Banten dan berhasil mengusir Poriugis dari Sunda Kelapa (Jayakarta) menguasainya. sehingga ia dianggap sebagai pendiri kota Jayakarta atau Jakarta sekarang, dan namanya diabadikan sebagai nama Universitas Islam negeri (UIN/ sebelumnya IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Mengapa Syarif Abdurrahman AI-Kadri tertarik terjun kedua politik dan selanjutnya menjadi sultan Pontianak Pertama, ini tidak terpisahkan dari darah yang mengalir pada dirinya. Walaupun ayahnya yarif Husin seorang Ulama Besar yang pernah diangkat menjadi Mufti dan tuan besar dan Syarif Abdurrahman pun diberikan pendidikan agama yang kuat oleh ayahnya, amun pada diri Syarif al-Kadri juga mengalir darah bangsawan kerajaan, sebab ibunya (Nyai Tua) adalah putri raja Matan, dan istrinya sendiri (Utin Chandra Midi) adalah putri raja Mempawah. Patutu juga dicatat, salah satu istri Syarif Abdurrahman AI-Kadri adalah ratu Syacharanom, putri dari kerajaan banjar, sehingga is sempat digelari Pangeran Syarif Abdurrahman Nur Alam.[11]
Dalam keadaan mengalir darah raja dan banyak bergaul dengan lingkungan kerajaan, bahkan kawin dengan putri-putri raja dapat dimaklumi jika Syarif Abdurrahman AI-Kadri punya naluri berkuasa yang besar sehingga berhasil membangun kesultanan Pontianak yang sangat besarnya dalam mengembangkan Islam di Kalimantan Barat.
Pilihan politik ini, walaupun sepintas menyimpang dari tradisi orang Arab dan keturunannya di Indonesia yang lebih tertarik berdagang dan berdakwah, namun pilihan itu tidak dapat dikatakan salah. Dengan memiliki power politik sesudah power ekonomi melalui keberhasilan berdagang, agama Islam akan semakin berkembang dan memiliki kekuatan politik di Kalimantan Barat. Sebab dakwah Islam atau agama Islam akan kuat apabila ditopang oleh kekuasaan dan ekonomi.
Lagi pula kekuasaan Syarif Abdurrahman Al-Kadri bukan semata karena ambisi politiknya, tetapi juga didukung oleh para Sultan dari kerajaan lain, juga dukungan rakyat. Salah satu kekuatan politik Kesultanan Pontianak adalah adanya toleransi beragama yang tinggi. Kepercayaan agama lain diluar Islam seperti Animisme, Khonghucu, dll, tetap dihormati. sehingga tidak terjadi konflik antaragama atau hal-hal negative lainnya. Bahkan di Kalimantan Barat bukan hal aneh bila mesti berdampingan atau berdekatan letaknya dengan klenteng, balai slot Dayak, dll.[12] Adanya toleransi yang tinggi ini, membuat masyarakat non muslim tidak berkeberatan dikuasai oleh Kesultanan Pontianak yang Islam. Konflik politik Dengan Kolonial Belanda Sebagai pemerintah penjajah belanda sangat berambisi Indonesia, tidak terkecuali daerah Kalimantan Barat yang dikuasai Kesultanan Pontianak. Beberapa hal yang mendorong belanda ingin mengembangkan sayap kekuasaan politiknya di Kalimantan barat adalah
  1. Belanda kuatir akan didahului oleh Sir Anthony Brooke yang berkuasa di Brunei dan Serawak dibawah kekuasaan Inggris, yang lebih dekat dengan Kalimantan Barat ketimbang kekuasaan Belanda yang berpusat di Batavia.
  2. Adanya sumber daya Islam di Kalimantan barat seperti emas. Mulanya didatangkan banyak pekerja kasar cina ke Sambas dan Mempawah untuk menjadi buruh pertimbangan emas. Tetapi kemudian diantara pekerja itu ada yang membandel dan melawan aturan Kerajaan, sehingga colonial Belanda merasa campur tangan.
  3. Banyaknya penyamun dan bajak laut di perairan Kalimantan Barat; Selat Karimata, taut Cina selatan dan sekitarnya yang mengganggu lalu lintas kapal-kapal dan Belanda dan pedagang lain. Karena itu belanda merasa perlu mengamankan diri sekaligus menguasai daerah setempat.[13]
Dengan beberapa latar belakang di atas, belanda melakukan pendekatan dengan kesultanan Pontianak. Mulanya, tahun 1779 M Presiden belanda Willem Adrian Palm mewakili VOC. Ditahun itu diikat perjanjian kedua pihak dan VOC diberi ijin membuka kantornya di Pontianak Tahun 1792-1808 Sultan Syarif Abdurrahman Al­-kadri bersama-sama Belanda membangun Pontianak, dan kewenagan Belanda dipusatkan disebelah barat Sungai Kapuas. Karena kekuasaan Belanda semakin kuat maka Sultan Svarif berada dalam tekanan, dan terpaksa menyerahkan kekuasaan politiknya kepada Belanda. Penyerahan itu diperhalus bahasanya menjadi meminjam, tetapi dalam tafsiran Belanda, jusiru Sultan yang harus rneminjam kepada Mereka dengan beberapa konsesi.
Isi Acte Van Investiture antara Nederlanche st Indische Compagnie dengan Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadri pontinak tanggal 5 juli 1779. diantaranya:
  1. Komponi belanda meminjamkan ewilayah kekuasan kepada sultan pontianak
  1. Bila sultan wafat, para menteri mengusulkan kepada kompeni calon sultan yang patut di angkat atas persetujuan kompeni.
  2. Sultan hanya boleh mengangkat menteri dan pejabat tinggi atas seizin kompeni
  1. Sultan berkewajiban menyerahkan hasil-hasil hutan, emas, intan, lada, sarang burung, sisik ikan, bide dan sage kepada kompeni dengan harga yang di tentukan sendiri oleh kompeni. Mata uang Belanda (Golden) yang diberlakukan di Batavia juga harus diberlakukan di Kalimantan barat.[14]
Banyak sekali dictum isi perjanjian tersebut, mencapai 18 macam, yang intinya mengebiri kedaulatan dan kekuasaan sultan-sultan Pontianak. Sultan Syarif Abdurrahman A1-Kadri dan keturunanya terpaksa menuruti. Sebagai imbalannya, Kesultanan Pontianak tidak dihapus tetap di ijinkan berkuasa, tetapi dengan kewenangan yang sudah jauh dikurangi.
Jadi konflik politik dengan Belanda tidak secara langsung diwarnai dengan perang fisik, namun sultan mendapat tekanan berat sehingga merelakan kedaulatannya di preteli. Ini berbeda dengan kesultanan lain yang melakukan perang fisik seperti Aceh dan Banjar, begitu kalah langsung dihapus kerajaan tersebut dari daerah yang dikuasinva.
Itulah sebabnya, konflik politik dengan Belanda, walaupun merugikan sultan dan rakyat, tetapi tidak terlalu tajam. Bahkan sultan pontianak terakhir, yaitu sultan Syarif Hamid Al-Kadri yang lebih dikenal dengan Sultan Hamid II pernah disekolahkan Belanda ke Koningkelijk Militair Academic (KMA) di Belanda dan diangkat Belanda menjadi Perwira KNIL di Balikpapan, Malang dan beberapa daerah lainnya di Jawa. Di era-era kemerdekaan, nama Sultan Abdul Hamid II cukup terkenal karena ia dianggap memihak Belanda (MICA) dalam kapasitasnya sebagai perwira KNIL. Bahkan Van Mook membebaskannya dari penjara karena sempat ditahan saat jepang dan sekutu datang, dan mengangkatnya kembali sebagai Sultan Pontianak. Semangat kemerdekaan yang tumbuh dihati rakyat membuat Sultan Hamid serba salah antara memihak Belanda dengan rakyat (pemerintah RI). la setuju mereka, tetapi menghendaki Negara federal. Tetapi setelah konferensi meja bundar dan penyerahan kedaulatan kepada RI tanggal 27 Desember 1949, Sultan Hamid II mengalami banyak kekecewaan. Selain gagal dengan tujuannya berkuasa di Negara Federal Kalimantan Barat, ia juga diangkat sebagai Menteri Pertahanan karena berpengalaman di akademi militer dan tugas-tugas lapangan.[15]
Karena berbagai kekecewan politik akhirnya ia menjauhi dunia politik dan kembali ketengah keluarga sambil pensiun dan menjadi Presiden Komisaris PT. Indonesia Air Transport, sampai wafatnya tanggal 30 Maret l 968

No comments:

Post a Comment